Menu ✖

Mode Gelap
Pedang Pora Warnai Pelepasan Wakapolda Sulteng Helmi Kwarta ke Mabes Polri Kapolda Rizal Irawan Pimpin Sertijab Wakapolda Sulteng dan Kapolres Parimo Hadiri Pesantren Lansia, Wagub Reny Ajak Lansia Jaga Kesehatan dan Perkuat Iman Kapolda Sulteng Gelar Jumat Keliling, Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Bersama Buka Festival Danau Poso 2026, Anwar Hafid Tekankan Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi Rakyat Polda Sulteng dan BNNP Kembali Gerebek Kayumalue, Dua Orang Diamankan

Pendidikan

Mahasiswa FKIP Untad Raih Juara II Lomba Monolog Tingkat Nasional di Bali

badge-check


					Muhammad Syafaat, kembali mengharumkan nama kampus di tingkat nasional. Ia berhasil meraih Juara II dalam Lomba Monolog Nasional yang diselenggarakan oleh Tegal Mengkep Artspace di Kabupaten Tabanan, Bali, (Foto: Istimewa) Perbesar

Muhammad Syafaat, kembali mengharumkan nama kampus di tingkat nasional. Ia berhasil meraih Juara II dalam Lomba Monolog Nasional yang diselenggarakan oleh Tegal Mengkep Artspace di Kabupaten Tabanan, Bali, (Foto: Istimewa)

Karama.id – Bali, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad), Muhammad Syafaat, kembali mengharumkan nama kampus di tingkat nasional. Ia berhasil meraih Juara II dalam Lomba Monolog Nasional yang diselenggarakan oleh Tegalmengkeb Artspace di Kabupaten Tabanan, Bali, pada 25 Juni 2026.

Kompetisi tersebut mempertemukan para pegiat seni teater dari berbagai daerah di Indonesia yang menampilkan kemampuan akting dan penghayatan karakter melalui pertunjukan monolog.

Dalam penampilannya, Syafaat membawakan naskah legendaris “Alimin/Aeng” karya sastrawan Putu Wijaya. Penampilannya berhasil memukau dewan juri berkat penghayatan karakter yang kuat serta penyampaian pesan sosial yang mendalam.

Baca Juga:
Mahasiswa Untad Raih Juara 3 Pilmapres LLDIKTI Wilayah 16

Syafaat menjelaskan bahwa naskah yang dibawakannya mengisahkan pergulatan batin seorang narapidana yang terus menunggu pelaksanaan hukuman mati yang tak kunjung dilaksanakan. Melalui cerita tersebut, Putu Wijaya menyampaikan kritik terhadap ketidakpastian hukum dan sisi kemanusiaan yang kerap terabaikan.

“Pesan dari naskah itu adalah mengapa hukum memakai jam karet. Sebagai bentuk protes terhadap sistem hukum yang ada, tokoh tersebut memilih mengakhiri hidupnya daripada terus menunggu hukuman mati yang tidak jelas kapan dilaksanakan,” ujar Syafaat.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan Untad, khususnya pimpinan FKIP, yang memfasilitasi keberangkatannya mengikuti kompetisi nasional tersebut, termasuk pembiayaan perjalanan.

Prestasi ini juga menjadi lanjutan dari capaian Syafaat sebelumnya yang berhasil meraih Juara I pada kompetisi seni mahasiswa tingkat Untad tahun 2025 dengan membawakan naskah yang sama.

Baca Juga:
Mahasiswa Sosiologi FISIP Untad Raih Runner-up Immerse Education Essay Competition

Meski demikian, Syafaat berharap minat mahasiswa terhadap seni monolog dapat terus meningkat. Menurutnya, monolog merupakan salah satu cabang seni pertunjukan yang memiliki tantangan tinggi karena seorang aktor dituntut memainkan berbagai karakter dan emosi seorang diri di atas panggung.

“Monolog membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan kemampuan interpretasi yang kuat. Saya berharap ke depan semakin banyak mahasiswa yang tertarik mendalami seni ini sehingga regenerasi pelaku teater di kampus dapat terus berjalan,” ungkapnya.

Usai meraih prestasi di tingkat nasional, Syafaat kini mempersiapkan diri menghadapi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) sebagai langkah untuk meraih kesempatan tampil pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) yang akan digelar di Jember.

“Semoga saya bisa kembali memberikan hasil terbaik dan mendapat kesempatan mewakili Sulawesi Tengah serta Universitas Tadulako di Peksiminas nanti,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Pendidikan